Tuesday, September 28, 2010

ketakutanku, menjadi temperamen yang tak pernah hilang

Semakin lama aku hidup di dunia ini, semakin aku takut menghadapi kerasnya kehidupan. Aku takut aku nggak bisa survive di dunia ini.
Ketakutan itu semakin menggerogoti hatiku. Semakin dalam dan semakin dalam sampai-sampai entah ingin terus hidup atau memilih mati. Satu per satu, orang-orang yang aku cintai dan aku kasihi akan pergi meninggalkanku sendiri.
Rasanya ingin menangis, katarsis sepuasku berharap semua keluh kesah yang telah menjadi batu di dadaku ini bisa dikeluarkan semua. Tapi, egoku berkata tidak. Aku tidak diizinkan oleh perasaanku sendiri untuk menangis. Id-ku sudah semakin menggila, namun ego dan superego tetap menahan keinginan 'gila' Id-ku.
Jujur, aku nggak tahu lagi apa yang harus aku lakukan sekarang. Semakin lama interaksi sosialku menjadi kacau. Aku mulai tidak percaya dengan siapa-siapa lagi. Aku melihat segala sesuatunya di dunia ini sebagai musuh, dan defense mechanism-ku berkata aku harus terus berlari dari kenyataan ini. Sampai kapan harus berlari? Sampai aku menemukan 'tempat pemberhentian' yang tepat? Dimana itu? Aku tidak menemukan kenyataan apa-apa.
Aku takut dengan dunia. Dunia mengancam kehidupanku. Aku mencoba untuk terus bertahan dan hidup sepenuh hatiku. Setiap aku menangis, aku akan selalu menghapus jejak air mata di wajahku dan terus berusaha bangkit, meskipun pada akhirnya aku masih tetap terjatuh, menangis dan terus berlanjut seperti itu.
Aku kehilangan teman-teman yang berharga. Aku nggak punya siapa-siapa yang bisa aku percaya lagi di dunia ini. Teman-teman yang aku kasihi, mereka sekarang bisa hidup bahkan tanpa diriku. Mereka sudah tidak mempedulikan apakah aku ada atau tidak ada di mata mereka ataupun apakah aku PERNAH punya tempat yang berarti dalam kehidupan mereka.
Bahkan keluargaku juga seperti itu. Aku hidup dalam keluarga yang egois, sama sekali tidak pernah mengerti perasaanku. Mereka hidup hanya berdasar kesenangan mereka sendiri, tanpa pernah SEKALIPUN mereka mengerti ataupun setidaknya tahu bagaimana perasaanku sebenarnya. Aku udah capek berlari dari kenyataan terus. Aku udah capek hidup dalam bayang-bayang 'neraka' dunia. Aku udah capek mencari-cari cara bagaimana menghentikan rasa sakit dan sesak luar biasa di dada ini.
Aku hanya ingin bertemu dengan orang yang bisa memahami dan membantuku membawa beban-beban hidupku ini, seperti teman-teman yang sudah meninggalkanku. Tapi bagaimana bisa aku menemukan orang semacam itu, sedangkan aku sendiri saja sudah mulai tidak mempercayai orang lain? Please Tuhan, aku menyerah dalam permainan-Mu. Beri aku petunjuk-Mu apa yang harus aku lakukan.

Tuesday, September 14, 2010

Catatanku (judul terinspirasi oleh seorang teman)

Aku nggak tahu lagi dengan perasaanku yang berkecamuk dan terombang-ambing tanpa arah ini. Aku nggak paham sama perasaanku sendiri. Aku nggak tahu harus aku apakan perasaanku yang 'nggak jelas' ini.
Kadang aku berusaha untuk mati-matian menolak perasaan itu, tapi suatu ketika juga aku begitu pasrah sampai hati ini bener-bener lemah dan begitu sulit untuk bangkit. Terkadang aku benci memiliki perasaan dapat mencintai orang lain --orang-orang yang aku cintai akan selalu pergi satu per satu dari hidupku. Tapi terkadang aku juga merasa aku membutuhkan perasaan cinta itu. Aku benci menjadi orang yang plinplan. Bagaimana aku bisa mengatasi perasaanku yang seperti ini?
Aku ingin menjadi seorang gadis yang dapat tersenyum lebar dengan normal. Aku ingin menjadi seseorang yang selalu tahu bagaimana cara agar bisa tetap menikmati hidup sepenuhnya. Sering banget aku merasa sakit dan sesak di dalam hati, tapi aku nggak pernah tahu pasti apa yang menyebabkan rasa sakit dan sesak itu ada. Terlalu banyak masalah yang membuat hatiku ruwet. Aku bingung, aku nggak ngerti aku harus apa! :(

Aku hanya bisa berdoa, semoga suatu saat ada orang yang bisa menolong hidupku yang semrawut kayak gini...